Ridwan Kamil, sang arsitek yang kini digemakan namanya oleh dunia.
Walikota Bandung periode 2013-2018 ini akrab disapa Kang Emil. Berbagai
karyanya yang mewarnai dunia membuatnya menghimpun banyak penggemar,
baik dari kalangan arsitek, perkotaan, hingga anak-anak muda, khususnya
warga Bandung. Namun, di balik namanya yang bersinar, tersimpan kisah
menarik yang sangat inspiratif. Sebuah kisah yang menjadikan Kang Emil
yang sekarang begitu luar biasa.
Lahir di Bandung, besar di Bandung, dan kembali untuk Bandung. Begitu
mencintai Bandung, membuatnya bersekolah sejak sekolah dasar hingga
menempuh tingkat sarjana di Bandung. Setelah mendapatkan Sarjana Teknik
di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Teknik Arsitektur, ia
berkelana untuk meniti karir di Amerika Serikat. Pada masa krisis
moneter, ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. Namun, hal itu
tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan yang tidak
ideal untuk melanjutkan hidup bersama sang istri di Republik Adidaya.
Hingga Kang Emil berhasil mendapatkan beasiswa master di University of
California, Berkeley. Setelah menggenggam gelar Master of Urban Design,
ia kembali ke Bandung.
Dua tahun kemudian, bersama kawan-kawan
terdekat, ia mendirikan sebuah firma arsitektur Urbane atau Urban
Evolution, atau bisa juga disebut Urang Bandung Euy. Selain itu, ia
mengabdi pada almamaternya sebagai dosen. Ia juga menjadi konsultan
urban di firma ternama SOM, EDAW, dan SAA. Perkembangan kota Jakarta dan
Surabaya pun tak lepas dari kontribusi Kang Emil yang sangat mencintai
kota dan berkarir untuk kota
Lahir di Bandung, besar di Bandung, dan kembali untuk Bandung. Begitu
mencintai Bandung, membuatnya bersekolah sejak sekolah dasar hingga
menempuh tingkat sarjana di Bandung. Setelah mendapatkan Sarjana Teknik
di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Teknik Arsitektur, ia
berkelana untuk meniti karir di Amerika Serikat. Pada masa krisis
moneter, ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. Namun, hal itu
tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan yang tidak
ideal untuk melanjutkan hidup bersama sang istri di Republik Adidaya.
Hingga Kang Emil berhasil mendapatkan beasiswa master di University of
California, Berkeley. Setelah menggenggam gelar Master of Urban Design,
ia kembali ke Bandung.
Dua tahun kemudian, bersama kawan-kawan terdekat, ia mendirikan sebuah firma arsitektur Urbane atau Urban Evolution, atau bisa juga disebut Urang Bandung Euy. Selain itu, ia mengabdi pada almamaternya sebagai dosen. Ia juga menjadi konsultan urban di firma ternama SOM, EDAW, dan SAA. Perkembangan kota Jakarta dan Surabaya pun tak lepas dari kontribusi Kang Emil yang sangat mencintai kota dan berkarir untuk kota
Dua tahun kemudian, bersama kawan-kawan terdekat, ia mendirikan sebuah firma arsitektur Urbane atau Urban Evolution, atau bisa juga disebut Urang Bandung Euy. Selain itu, ia mengabdi pada almamaternya sebagai dosen. Ia juga menjadi konsultan urban di firma ternama SOM, EDAW, dan SAA. Perkembangan kota Jakarta dan Surabaya pun tak lepas dari kontribusi Kang Emil yang sangat mencintai kota dan berkarir untuk kota
Dalam karir profesionalnya, Kang Emil memiliki dua langkah dalam
mencapai visinya. Yang pertama adalah mengedukasi orang mampu agar
memahami pentingnya kota bagi seluruh lapisan, serta memberikan
fasilitas kepada mereka yang tidak mampu melalui proyek sosial. Seperti
yang ia lakukan pada kediamannya, Bottle House. Selama 6 bulan
ia mengumpulkan botol kaca bekas sehingga mampu diolah menjadi elemen
dinding dan roster, yang menjadi sebuah inisiasi cerdas: mengubah sampah
menjadi unsur estetika.
Sisi kreatifnya tak berhenti kendati kini ia telah menjadi Walikota
Bandung. Moto “membangun kota dengan gagasan baru” terlihat menarik
hingga ratusan orang berharap memiliki walikota keren seperti Kang Emil.
Mari kita lihat inovasinya dalam menciptakan kebiasan baik bagi warga
Bandung dengan hari tematik seperti Selasa Tanpa Rokok dan Rebo Nyunda.
Semua hal itu diawali dari dirinya sendiri. Ia memanfaatkan media sosial
untuk mengajak warganya melakukan hal yang sama. Luar biasa, bukan?
Begitu juga taman-taman tematik yang Kang Emil bangun sedikit demi sedikit pada periode pemerintahannya. Taman Jomblo, Taman Film, dan Revitalisasi Alun-alun Bandung. Diiringi dengan perubahannya pada periklanan untuk kota, yang dikemas ala anak muda sebagai pendorong dan pengingat bagi masyarakat Bandung yang kreatif, untuk mengalokasikan kreativitasnya pada kota.
Kiprah Kang Emil mulai dari bidang arsitektur, kota, sosial, hingga pemerintahan, menumbuhkan harapan hadirnya para pembawa perubahan yang kreatif di Indonesia.
Bagaimana dengan kamu?
Begitu juga taman-taman tematik yang Kang Emil bangun sedikit demi sedikit pada periode pemerintahannya. Taman Jomblo, Taman Film, dan Revitalisasi Alun-alun Bandung. Diiringi dengan perubahannya pada periklanan untuk kota, yang dikemas ala anak muda sebagai pendorong dan pengingat bagi masyarakat Bandung yang kreatif, untuk mengalokasikan kreativitasnya pada kota.
Kiprah Kang Emil mulai dari bidang arsitektur, kota, sosial, hingga pemerintahan, menumbuhkan harapan hadirnya para pembawa perubahan yang kreatif di Indonesia.
Bagaimana dengan kamu?









0 komentar:
Posting Komentar