Berbicara pemimpin, maka akan berbicara juga tentang kepemimpinan.
Sejak lama para pemimpin di Indonesia telah memikirkan, menggagas, dan
mengusung berbagai program kerja dalam kerangka kepemimpinan yang jauh dari rakyat.
Meski pada hakikatnya untuk pembangunan, tetapi kepemimpinan yang
diusung nyatanya tidak sesuai dan berjarak. Pertanyaan dasarnya adalah,
apa hakikat kepemimpinan itu diselenggarakan? Pertanyaan ini yang
kemudian membawa pada pertanyaan selanjutnya, kepada siapa hendaknya
kepemimpinan ini diabdikan?
Tulisan ini memfokuskan pada kajian tentang kepemimpinan lokal yang
sudah melangkah jauh kedepan. Beberapa pemimpin lokal dengan gaya
kepemimpinannya telah mampu melukiskan karya dan menjadi inspirasi
penggerak perubahan sosial di daerah. Ridwan Kamil adalah salah satunya,
yang kemudian akan dibahas dalam kajian ini.
Konsepsi Kepemimpinan Yang Menggerakkan
Setiap organisasi pasti memiliki seorang pemimpin, hal ini disebabkan
keberadaan pemimpin yang dibutuhkan bagi keberlangsungan organisasi.
Dalam tulisan ini, organisasi yang dimaksud ialah Kota Bandung meliputi
birokrat dan masyarakatnya, sedangkan pemimpinnya adalah Ridwan Kamil.
Ridwan Kamil sebagai pemimpin bertanggung-jawab menciptakan visi,
misi, dan juga strategi yang baik supaya dapat memengaruhi birokrat dan
juga masyarakat guna mencapai tujuan. Semua ini harus dikomunikasikan,
sehingga mereka semua secara utuh bisa memahami dan mendukung
terwujudnya tujuan yang hendak dibangun.
Pernyataan saya di atas didukung oleh Ralph M. Stogdill, yang
menyatakan kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang memiliki pengaruh.
[1] Kemampuan menggerakkan birokrat dan masyarakat merupakan manifestasi atas pengaruh.
Secara prinsip, pengaruh merupakan esensi dari politik. Namun,
kepemimpinan yang disandarkan pada kekuatan politik semata dinilai sudah
tidak relevan. Dengan itu, pemimpin seperti Ridwan Kamil mencoba keluar
dari model kerangka yang jumud (berjarak) dengan menerapkan konsep “kepemimpinan yang menggerakkan”.
Kepemimpinan model ini diperkenalkan pertama kali oleh Anies Baswedan dalam pidatonya berjudul “Indonesia Kita Semua”.
[2]
Dikatakan bahwa kepemimpinan ini didasari atas kenyataan bahwa urusan
dan persoalan sebesar Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang.
Maka, seorang pemimpin harus mampu memunculkan kepemimpinan yang
mengajak seluruh orang turun tangan melunasi janji-janji kemerdekaan
Indonesia.
Dari penjelasan di atas, secara sederhana, kepemimpinan model ini
dipahami memiliki kedekatan dan tak berjarak dengan masyarakatnya, serta
mampu mendorong para birokrat untuk berinovasi dalam menerapkan
kebijakan guna memenuhi janji-janji kemerdekaan. Dengan itu, hakikat
kepemimpinan adalah memengaruhi guna mencapai tujuan yang dicitakan.
Oleh karena itu, konsepsi “kepemimpinan yang menggerakkan” ini akan
sangat penting jika dikaitkan dengan konteks kepemimpinan lokal saat ini
diabdikan. Hal tersebut dikarenakan dalam kepemimpinanlah kuasa dan
arah kebijakan suatu daerah ditentukan. Selain itu, perubahan langkah
untuk mencapai tujuan pembangun daerah telah berubah secara drastis
dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat. Hal ini yang kemudian
menjadi nilai positif dan perhatian bagi kita semua dalam memandang masa
depan bangsa yang dimulai dari kepemimpinan lokal.
Ridwan Kamil Untuk Bandung Juara
Ridwan Kamil, pria kelahiran Bandung 4 Oktober 1971 merupakan
Walikota Bandung periode 2013-2018. Ia terpilih menjadi Walikota setelah
mengalahkan 7 pasangan lainnya dengan perolehan 45,24%.
Sebelum menjadi pejabat publik, ia dikenal sebagai seorang arsitek
dan dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pria yang
sangat mencintai kota kelahirannya ini menekankan aspek penting inovasi
dan menempatkan rakyat sebagai agen untuk berpartisipasi dalam setiap
kebijakan yang dikeluarkannya. Maka, tak heran apabila kehadiran dan
juga karya nyatanya selalu dinantikan ditengah masyarakat Bandung.
Hemat saya mengatakan bahwa tidak ada kepemimpinan tanpa adanya
pemimpin; dan tidak ada pemimpin yang muncul secara tiba-tiba. Max Weber
mengamini pernyataan tersebut sembari menjelaskannya melalui tiga jenis
kepemimpinan; dua diantaranya ialah kharismatik dan legal, yang ada dalam pribadi Ridwan Kamil.
Dapat dikatakan, ia merupakan sosok
kharismatik yang
dikarunia bakat-bakat khusus oleh Tuhan untuk memimpin sekelompok
manusia mengarungi tantangan sejarah hidupnya. Disaat bersamaan, ia juga
merupakan pemimpin
legal yang mendapat pelimpahan wewenang berdasarkan prosedur pemilihan yang diatur dengan hukum di masyarakat.
[3]
Kedua hal tersebut menjadi tak terpisahkan dari Ridwan Kamil manakala
kinerja nyatanya telah menunjukkan hal yang demikian baik.
Desentralisasi dan demokratisasi di era reformasi pada kenyataannya
telah mengubah wajah kepemimpinan lokal menjadi peristiwa politik yang
menarik untuk disimak.
Dalam proses tersebut, berbagai macam strategi digunakan termasuk
penggunaan bahasa dalam pertarungan wacana guna menggerakkan setiap
elemen untuk sama-sama terlibat dalam penyelesaian permasalahan dan
pembangunan. Disini, Ridwan Kamil mereproduksi wacana “Bandung Juara”.
Bandung Juara adalah etos kerja yang disuarakan oleh Ridwan Kamil
sejak terpilihnya beliau menjadi Walikota Bandung untuk menuju Bandung
Bermartabat. Bagi Ridwan Kamil, untuk membereskan masalah-masalah di
Bandung bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama dengan
desentralisasi (Camat, Lurah, dan RW harus gesit berdaya di daerahnya
masing-masing) maka setengah urusan kota Bandung beres; dan satunya lagi
dengan kolaborasi karena “
Orang Bandung mah kalau diajak kebaikan rata-rata mau”.
[4]
Selain itu, partisipasi publik juga dapat ditemukan melalui ruang
publik—dalam hal ini—media sosial yang memungkinkan setiap orang
berpartisipasi dalam diskusi dan perdebatan yang diharapkan konstruktif
guna memberi masukan secara cepat dan tepat guna membangun Bandung
bermartabat.
Banyak sekali tawaran program yang sudah dilakukan oleh Ridwan Kamil untuk membawa Bandung Juara. Beberapa di antaranya adalah:
[5]
Gerakan ini adalah kegiatan gotong royong warga Kota Bandung untuk menjadikan kota Bandung sebagai juara kebersihan.
Gerakan ini adalah kegiatan gotong royong warga Kota Bandung untuk
membuat lubang resapan biopori dengan harapan bisa menyuburkan tanah,
mengolah sampah organis, mengurangi genangan air dan menabung air.
Taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Lebih jauh, taman menjadi tempat mengedukasi.
- Fasilitas Wifi di Rumah Ibadah
Fasilitas ini diberikan guna menunjang kebutuhan akses layanan
informasi yang mudah bagi masyarakat. Selain itu juga diharapkan mampu
mendekatkan masyarakat untuk datang ke rumah ibadah.
Kawasan PKL yang berada di zona merah tidak dibenarkan. Masyarakat
pun dilarang membeli dari PKL tersebut. Barang siapa yang melanggar,
terdapat hukuman denda maksimal Rp. 1.000.000,-
One day no rice[6] bertujuan untuk mengubah kultur atau pola konsumsi pangan di Bandung.
Merupakan aksi nyata dari Ridwan Kamil untuk meningkatkan Indeks
Kebahagiaan Warga. Sebua kota tidak menyenangkan untuk dihuni karena
tingkat stres dan kejenuhan warga kota. Begitu pentingnya peran warga
untuk menghidupkan kota dapat dimulai dari pribadi masing-masing, warga
harus menumbuhkan sugesti positif agar kota memiliki dinamika tumbuh
menyenangkan. Kemudian, kegiatan ini juga diharapkan bisa mengurangi
kemacetan, hingga melestarikan budaya. Program yang tersedia antara
lain:
Senin Bis Gratis
Fasilitas yang diberikan kepada pelajar berseragam untuk mengurangi
kemacetan dengan bantuan dari beberapa perusahaan di Bandung menggunakan
dana CSR.
Selasa Tanpa Rokok
Program yang digulirkan untuk mengupayakan warga Bandung lebih sehat
serta melindungi warga Bandung dari bahaya rokok dan membatasi iklan
rokok di Kota Bandung.
Rebo Nyunda
Digagas untuk mengembalikan dan melestarikan Budaya Sunda, dengan
menggunakan bahasa sunda dan pakaian adat sunda. Menggunakan “iket”
(ikat kepala) dan baju pangsi bagi laki-laki dan bagi perempuan
menggunakan kebaya serta batik samping.
Kamis Inggris
Satu hari berbahasa inggris ditujukan supaya warga Bandung terbiasa
dalam melakukan percakapan dengan berbahasa inggris. Terlebih lagi
program ini ditujukan kepada para pelajar dan pemuda Bandung guna
menghadapi persaingan global di masa mendatang. Salah satu upaya untuk
mendukung gerakan ini adalah dengan memutarkan film berbahasa inggris
setiap satu bulan sekali di taman film Bandung.
Jumat Bersepeda
Ditujukan untuk kembali meningkatkan penggunaan sepeda oleh warga
Bandung untuk menuju Kota Bandung sebagai kota sepeda, yang nantinya
akan digalakkan bersepeda setiap hari jumat baik itu ke kantor maupun ke
sekolah.
Sabtu Festival
Ditujukan kepada masyarakat Kota Bandung untuk mengadakan Festival
Kuliner Rakyat secara rutin, tujuannya agar masyarakat mampu mengelola
acaranya sendiri di setiap kecamatan dan memberikan kesan
kebahagiaan dan bisa kumpul bersama antar warga.
Bus Bandros (Bandung Tour On The Bus)
Bus bertingkat yang disediakan oleh pemerintah Kota Bandung bagi
wisatawan yang hendak berkeliling kota Bandung. Adapun rute yang
dilaluinya adalah Alun- Alun, Jalan Asia Afrika, Jalan ABC, Jalan
Banceuy, Jalan Braga, Jalan Lembong, Jalan Veteran, Jalan Sunda, Jalan
Sumbawa, Jalan Aceh, Jalan Banda, Jalan Riau, Jalan Citarum, dan
Diponegoro.
- Transparansi Pengelolaan Anggaran Daerah
Melalui Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) di laman http://lakip.bandung.go.id/portal/home,
diharapkan pelayanan publik yang diselenggarakan berjalan sesuai dengan
etika dan akuntabel, sehingga masyarakat Bandung secara utuh bisa
mengawasi jalannya pemerintahan; dst.
Tentu saja, program-program di atas bukan sekedar omong kosong
belaka. Beberapa bukti nyata telah diukir dalam rangka memperbaiki
kualitas kehidupan masyarakat Bandung, seperti capaian Bandung di mana
kinerja birokrasi dari urutan ratusan pada tahun 2013, sekarang menjadi
urutan satu nasional.
Kemudian, pelayanan publik dari rapor merah sekarang menduduki
peringkat empat nasional, transparansi pemerintahan, penghilangan izin
usaha UKM, persentasi pengangguran yang menurun, kredit usaha tanpa
bunga dan agunan, dan sebagainya.
[7]
Semenjak dilantik, Ridwan Kamil selalu membuat inovasi setiap harinya.
Terobosan yang dilakukannya seperti menghidupkan kembali taman kota,
memberikan denda kepada perokok di tempat umum, hingga mempercepat
pembuatan akte kelahiran.
[8]
Di titik inilah kita menyadari bahwa kepemimpinan yang menggerakkan
pada akhirnya secara perlahan mampu menangkal segala bentuk tantangan.
Sekali lagi perlu ditegaskan, urusan sebesar Indonesia tidak bisa
diselesaikan oleh satu orang saja. Dukungan dan pengawasan secara aktif
dari warga Bandung menjadi modal berharga bagi para birokrat untuk terus
menjaga integritas dalam bekerja sembari terus-menerus melakukan
inovasi.
Dengan begitu, pertanyaan di awal bisa dengan mudah dijawab, bahwa
memengaruhi masyarakat untuk terlibat menyelesaikan berbagai persoalan
kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hakikat dari kepemimpinan.
Setelah itu, bersamaan dengan keterlibatan, maka hasil dan buah karya
nyata hanya diberikan dan diabdikan kembali kepada masyarakat.