RIDWAN KAMIL WALI KOTA BANDUNG

Jumat, 14 Juli 2017

Genap Setahun Jadi Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil ''Pamer'' Prestasi

Sudah genap setahun Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung sejak dilantik 16 September 2013 lalu. Telah banyak dinamika baik politik maupun sosial yang dihadapi pria yang akrab disapa Emil ini selama menjabat sebagai orang nomor satu di Kota Kembang.
Dalam satu tahun ini, Emil mengklaim telah berhasil membuat beberapa perubahan positif di Kota Bandung. Walaupun diakuinya pula keberhasilan tersebut belum sepenuhnya sempurna.
Perubahan positif yang dibuat Emil diantaranya adalah di bidang infrastruktur dengan program pengaspalan jalan, pembersihan gorong-gorong, dan penataan kawasan, termasuk peluncuran Unit Reaksi Cepat (URC) Tambal Jalan dan 'Tim Tangkal' yang juga turut membantu menyelesaikan permasalahan pohon di jalan-jalan Kota Bandung.
Selain itu, renovasi pasar juga menjadi salah satu penataan bidang infrastruktur, yang sudah dilakukan di antaranya adalah renovasi Pasar Cijerah dan rencana pembenahan Pasar Kosambi menjadi Pasar Kerajinan Indonesia.
"Di bidang reformasi birokrasi Pemkot Bandung telah bekerjasama dengan KPK dalam hal pengendalian gratifikasi. Kita juga melakukan lelang jabatan untuk kepala dinas dan jabatan eselon IIb lainnya," kata Emil di Bandung, Selasa (16/9/2014).
Di bidang sosial, Emil mengklaim telah melakukan penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan anak jalanan (anjal) dengan cara turun langsung ke jalan dalam operasi penertiban. Kemudian, penanganan masalah sosial lainnya adalah penegakkan tempat usaha hiburan tak berizin dan penertiban toko-toko yang menjual miras. Juga Emil menginstruksikan kepada tim gabungan penegakkan disiplin untuk membereskan parkir liar.
"Satu hari dalam seminggu juga ada agenda untuk keluarga pra sejahtera makan malam bersama wali kota dan terobosan sosial di bidang sosisal lainnya adalah akta kelahiran gratis kepada anak yang lahir di rumah bersalin," tutur dia.
Dalam bidang kesehatan dan olahraga, Emil juga mengklaim telah berhasil melakukan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu dan Call Center 119. Kemudian, Rumah Sakit Kesehatan Gigi dan Mulut (RSKGM) juga telah selesai direnovasi pada bulan Februari 2014 lalu. Kerjasama dengan pihak swasta dalam program bedah 100 toilet SD pun diklaim oleh Emil sebagai sebuah bentuk keberhasilan. 
Selain itu, program-program di bidang pemanfaatan ruang-ruang terbuka untuk menjadi pusat aktivitas warga juga mulai digulirkan. Salah satunya adalah pembengunan lapangan futsal (Taman Persib dan Lapangan Bandung Wetan) dan arena bermain skateboard di Taman Pasupati.
"Kita juga meluncurkan program hari Selasa tanpa rokok untuk menciptakan Kota Bandung bebas asap rokok," tuturnya.
Salah satu cita-cita Emil adalah menjadikan warga Kota Bandung sebagai kota yang berbahagia melalui program peningkatan indeks kebahagian. Untuk itu, Emil telah membuat beberapa terobosan seperti Culinary Night yang diharapkan bisa menjadi sarana pemberdayaan semangat enterpreneurship warga.
Program lainnya yang termasuk peningkatan indeks kebahagiaan adalah renovasi taman-taman menjadi taman tematik, meluncurkan Bandung Tour on de Bus (bus wisata Bandros), dan beragam acara nonton bareng.
Di bawah kepemimpinan Emil, kerjasama antardaerah dan luar negeri mulai gencar ditingkatkan. Kerjasama tersebut diantaranya adalah dengan Belanda dalam sistem pengelolaan air, sistem pengelolaan kereta api dengan Perancis, dan melihat dari dekat pabrik monorel di Jerman.
Di Asia, Emil menjalin kerjasama dengan Seoul, Korea Selatan, untuk menjajaki kerjasama bidang Teknologi Informasi, Jepang untuk kerjasama bidang lingkungan dan penanggulangan banjir, dan Beijing, Tiongkok, untuk promosi wisata Kota Bandung.
Di bawah kepemimpinan Emil dan wakilnya, Oded Danial selama satu tahun, Kota Bandung juga mendapat beberapa penghargaan. Penghargaan tersebut di antaranya adalah penghargaan dari Ombudsman karena dianggap sukses memperbaiki 29 SKPD menjadi kategori biru. "Pada tahun 2013, 18 SKPD rapornya masih merah," jelasnya. 
Penghargaan lainnya adalah dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) karena telah menerapkan program Selasa Tanpa Rokok, penghargaan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) kategori pembinaan dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, penghargaan Wali Kota Terbaik dunia dalam Forum Young Leadership Simposium World Cities Summit di Singapura. Terakhir, penghargaan Wahana Tata Nugraha dari Kemenhub dalam bidang penataan lalu lintas dan transportasi.
Di bidang pendidikan, Emil telah melakukan reformasi dalam sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) secara online. Meski sempat menuai kecaman, namun hal tersebut dikatakannya hanya segelintir kecil orang yang terkena dampak.
Sisanya, lanjut Emil, lebih banyak menerima sisi positif lantaran di sistem ini dikatakan berhasil mengurangi praktik-praktik intervensi pejabat, korupsi, pungli suap, sogokan, dan kecurangan lainnya.
Di bidang keamanan dan ketertiba, Pemkot Bandung bekerjasama dengan Polrestabes Bandung telah meluncurkan program Brigadir RW yang dirancang untuk meningkatkan perlindungan, pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat. Kemudian penataan PKL.
Menurut Emil, Pemkot Bandung telah berhasil melakukan penertiban di beberapa kawasan sentral seperti Jalan Merdeka, Jalan Kepatihan, serta penataan Gasibu. "Satu tahun empat titik. Jadi kalau lima tahun ada 20 titik PKL yang akan kita bereskan," ujar Emil.


Kamis, 13 Juli 2017

3 Ajaran Sang Kakek untuk Bekal Hidup Ridwan Kamil

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ternyata punya darah seorang pahlawan, yaitu KH Mukhyidin, seorang ulama besar di Jawa Barat pada masa penjajahan Belanda.
Pria yang akrab disapa Emil itu merupakan generasi ketiga dari KH Mukhyidin. Emil lahir dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih. Atje Misbach Muhjiddin adalah anak pertama KH Mukhyidin dari istri keempatnya Siti Hafsah.
Emil mengatakan, ada tiga nilai penting yang ditularkan kakeknya kepada para keluarganya, yakni nyunda (membawa nilai kesundaan), nyantri (memiliki ilmu agama), dan nyakola (berpendidikan).
"Tiga nilai itu yang saat ini saya praktikkan dalam memimpin kota," ucap Emil dalam Seminar Nasional Pengusulan KH Mukhyidin sebagai Pahlawan Nasional di Museum Sri Baduga, Jalan Peta, Rabu (23/3/2016).
"Nyunda, nyantri, nyakola. Bahwa harus punya keilmuan agama walaupun tidak harus jadi ulama untuk bekal hidup. Harus nyunda karena kakek saya seniman. Dia punya buku jadi berdakwahnya lewat puisi dan lagu," tambahnya.
Emil mengatakan, sangat sulit untuk menelusuri silsilah KH Mukhyidin karena sang kakek sengaja membakar silsilah keluarga untuk menghindari pengultusan garis keturunan.
"Selain itu, budaya di Indonesia kadang sesuatunya tidak tertulis, berbeda dengan budaya Arab. Perbedaan budaya inilah yang menyebabkan jejak sejarah sulit ditelusuri," kata dia.
Upaya pengusulan KH Mukhyidin sebagai pahlawan, lanjut Emil, telah melebihi ekspektasinya.
"Diberi kehormatan dari profesor sejarah untuk dikaji dan diusulkan saja bagi saya sudah melebihi ekspektasi karena itu menjadi sejarah di keluarga kami. Kalau ternyata oleh profesor sejarah ini dianggap penting, ya kenapa tidak," tuturnya

Kepemimpinan Yang Menggerakkan: Ridwan Kamil untuk Bandung Juara

Berbicara pemimpin, maka akan berbicara juga tentang kepemimpinan. Sejak lama para pemimpin di Indonesia telah memikirkan, menggagas, dan mengusung berbagai program kerja dalam kerangka kepemimpinan yang jauh dari rakyat. Meski pada hakikatnya untuk pembangunan, tetapi kepemimpinan yang diusung nyatanya tidak sesuai dan berjarak. Pertanyaan dasarnya adalah, apa hakikat kepemimpinan itu diselenggarakan? Pertanyaan ini yang kemudian membawa pada pertanyaan selanjutnya, kepada siapa hendaknya kepemimpinan ini diabdikan?
Tulisan ini memfokuskan pada kajian tentang kepemimpinan lokal yang sudah melangkah jauh kedepan. Beberapa pemimpin lokal dengan gaya kepemimpinannya telah mampu melukiskan karya dan menjadi inspirasi penggerak perubahan sosial di daerah. Ridwan Kamil adalah salah satunya, yang kemudian akan dibahas dalam kajian ini.

Konsepsi Kepemimpinan Yang Menggerakkan
Setiap organisasi pasti memiliki seorang pemimpin, hal ini disebabkan keberadaan pemimpin yang dibutuhkan bagi keberlangsungan organisasi. Dalam tulisan ini, organisasi yang dimaksud ialah Kota Bandung meliputi birokrat dan masyarakatnya, sedangkan pemimpinnya adalah Ridwan Kamil.
Ridwan Kamil sebagai pemimpin bertanggung-jawab menciptakan visi, misi, dan juga strategi yang baik supaya dapat memengaruhi birokrat dan juga masyarakat guna mencapai tujuan. Semua ini harus dikomunikasikan, sehingga mereka semua secara utuh bisa memahami dan mendukung terwujudnya tujuan yang hendak dibangun.
Pernyataan saya di atas didukung oleh Ralph M. Stogdill, yang menyatakan kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang memiliki pengaruh.[1] Kemampuan menggerakkan birokrat dan masyarakat merupakan manifestasi atas pengaruh.
Secara prinsip, pengaruh merupakan esensi dari politik. Namun, kepemimpinan yang disandarkan pada kekuatan politik semata dinilai sudah tidak relevan. Dengan itu, pemimpin seperti Ridwan Kamil mencoba keluar dari model kerangka yang jumud (berjarak) dengan menerapkan konsep “kepemimpinan yang menggerakkan”.
Kepemimpinan model ini diperkenalkan pertama kali oleh Anies Baswedan dalam pidatonya berjudul “Indonesia Kita Semua”.[2] Dikatakan bahwa kepemimpinan ini didasari atas kenyataan bahwa urusan dan persoalan sebesar Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang. Maka, seorang pemimpin harus mampu memunculkan kepemimpinan yang mengajak seluruh orang turun tangan melunasi janji-janji kemerdekaan Indonesia.
Dari penjelasan di atas, secara sederhana, kepemimpinan model ini dipahami memiliki kedekatan dan tak berjarak dengan masyarakatnya, serta mampu mendorong para birokrat untuk berinovasi dalam menerapkan kebijakan guna memenuhi janji-janji kemerdekaan. Dengan itu, hakikat kepemimpinan adalah memengaruhi guna mencapai tujuan yang dicitakan.
Oleh karena itu, konsepsi “kepemimpinan yang menggerakkan” ini akan sangat penting jika dikaitkan dengan konteks kepemimpinan lokal saat ini diabdikan. Hal tersebut dikarenakan dalam kepemimpinanlah kuasa dan arah kebijakan suatu daerah ditentukan. Selain itu, perubahan langkah untuk mencapai tujuan pembangun daerah telah berubah secara drastis dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat. Hal ini yang kemudian menjadi nilai positif dan perhatian bagi kita semua dalam memandang masa depan bangsa yang dimulai dari kepemimpinan lokal.

Ridwan Kamil Untuk Bandung Juara
Ridwan Kamil, pria kelahiran Bandung 4 Oktober 1971 merupakan Walikota Bandung periode 2013-2018. Ia terpilih menjadi Walikota setelah mengalahkan 7 pasangan lainnya dengan perolehan 45,24%.
Sebelum menjadi pejabat publik, ia dikenal sebagai seorang arsitek dan dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pria yang sangat mencintai kota kelahirannya ini menekankan aspek penting inovasi dan menempatkan rakyat sebagai agen untuk berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Maka, tak heran apabila kehadiran dan juga karya nyatanya selalu dinantikan ditengah masyarakat Bandung.
Hemat saya mengatakan bahwa tidak ada kepemimpinan tanpa adanya pemimpin; dan tidak ada pemimpin yang muncul secara tiba-tiba. Max Weber mengamini pernyataan tersebut sembari menjelaskannya melalui tiga jenis kepemimpinan; dua diantaranya ialah kharismatik dan legal, yang ada dalam pribadi Ridwan Kamil.
Dapat dikatakan, ia merupakan sosok kharismatik yang dikarunia bakat-bakat khusus oleh Tuhan untuk memimpin sekelompok manusia mengarungi tantangan sejarah hidupnya. Disaat bersamaan, ia juga merupakan pemimpin legal yang mendapat pelimpahan wewenang berdasarkan prosedur pemilihan yang diatur dengan hukum di masyarakat.[3]
Kedua hal tersebut menjadi tak terpisahkan dari Ridwan Kamil manakala kinerja nyatanya telah menunjukkan hal yang demikian baik. Desentralisasi dan demokratisasi di era reformasi pada kenyataannya telah mengubah wajah kepemimpinan lokal menjadi peristiwa politik yang menarik untuk disimak.
Dalam proses tersebut, berbagai macam strategi digunakan termasuk penggunaan bahasa dalam pertarungan wacana guna menggerakkan setiap elemen untuk sama-sama terlibat dalam penyelesaian permasalahan dan pembangunan. Disini, Ridwan Kamil mereproduksi wacana “Bandung Juara”.
Bandung Juara adalah etos kerja yang disuarakan oleh  Ridwan Kamil sejak terpilihnya beliau menjadi Walikota Bandung untuk menuju Bandung Bermartabat. Bagi Ridwan Kamil, untuk membereskan masalah-masalah di Bandung bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama dengan desentralisasi (Camat, Lurah, dan  RW harus gesit berdaya di daerahnya masing-masing) maka setengah urusan kota Bandung beres; dan satunya lagi dengan kolaborasi karena “Orang Bandung  mah kalau diajak kebaikan rata-rata mau”.[4]
Selain itu, partisipasi publik juga dapat ditemukan melalui ruang publik—dalam hal ini—media sosial yang memungkinkan setiap orang berpartisipasi dalam diskusi dan perdebatan yang diharapkan konstruktif guna memberi masukan secara cepat dan tepat guna membangun Bandung bermartabat.
Banyak sekali tawaran program yang sudah dilakukan oleh Ridwan Kamil untuk membawa Bandung Juara. Beberapa di antaranya adalah:[5]
  • Gerakan Pungut Sampah
Gerakan ini adalah kegiatan gotong royong warga Kota Bandung untuk menjadikan kota Bandung sebagai juara kebersihan.
  • Gerakan Sejuta Biopori
Gerakan ini adalah kegiatan gotong royong warga Kota Bandung  untuk membuat lubang resapan biopori dengan harapan bisa menyuburkan tanah, mengolah sampah organis, mengurangi genangan air dan menabung air.
  • Taman Tematik
Taman tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Lebih jauh, taman menjadi tempat mengedukasi.
  • Fasilitas Wifi di Rumah Ibadah
Fasilitas ini diberikan guna menunjang kebutuhan akses layanan informasi yang mudah bagi masyarakat. Selain itu juga diharapkan mampu mendekatkan masyarakat untuk datang ke rumah ibadah.
  • Kawasan PKL Terlarang
Kawasan PKL yang berada di zona merah tidak dibenarkan. Masyarakat pun dilarang membeli dari PKL tersebut. Barang siapa yang melanggar, terdapat hukuman denda maksimal Rp. 1.000.000,-
  • One Day No. Rice
One day no rice[6] bertujuan untuk mengubah kultur atau pola konsumsi pangan di Bandung.
  • Fun Days
Merupakan aksi nyata dari Ridwan Kamil untuk meningkatkan Indeks Kebahagiaan Warga. Sebua kota tidak menyenangkan untuk dihuni karena tingkat stres dan kejenuhan warga kota. Begitu pentingnya peran warga untuk menghidupkan kota dapat dimulai dari pribadi masing-masing, warga harus menumbuhkan sugesti positif agar kota memiliki dinamika tumbuh menyenangkan. Kemudian, kegiatan ini juga diharapkan bisa mengurangi kemacetan, hingga melestarikan budaya. Program yang tersedia antara lain:
Senin Bis Gratis
Fasilitas yang diberikan kepada pelajar berseragam untuk mengurangi kemacetan dengan bantuan dari beberapa perusahaan di Bandung menggunakan dana CSR.
Selasa Tanpa Rokok
Program yang digulirkan untuk mengupayakan warga Bandung lebih sehat serta melindungi warga Bandung dari bahaya rokok dan membatasi iklan rokok di Kota Bandung.
Rebo Nyunda
Digagas untuk mengembalikan dan melestarikan Budaya Sunda, dengan menggunakan bahasa sunda dan pakaian adat sunda. Menggunakan “iket” (ikat kepala) dan baju pangsi bagi laki-laki dan bagi perempuan menggunakan kebaya serta batik samping.
Kamis Inggris
Satu hari berbahasa inggris ditujukan supaya warga Bandung terbiasa dalam melakukan percakapan dengan berbahasa inggris. Terlebih lagi program ini ditujukan kepada para pelajar dan pemuda Bandung guna menghadapi persaingan global di masa mendatang. Salah satu upaya untuk mendukung gerakan ini adalah dengan memutarkan film berbahasa inggris setiap satu bulan sekali di taman film Bandung.
Jumat Bersepeda
Ditujukan untuk kembali meningkatkan penggunaan sepeda oleh warga Bandung untuk menuju Kota Bandung sebagai kota sepeda, yang nantinya akan digalakkan bersepeda setiap hari jumat baik itu ke kantor maupun ke sekolah.
Sabtu Festival
Ditujukan kepada masyarakat Kota Bandung untuk mengadakan Festival Kuliner Rakyat secara rutin, tujuannya agar masyarakat mampu mengelola acaranya sendiri di setiap kecamatan dan memberikan kesan kebahagiaan  dan bisa kumpul bersama antar warga.
Bus Bandros (Bandung Tour On The Bus)
Bus bertingkat yang disediakan oleh pemerintah Kota Bandung bagi wisatawan yang hendak berkeliling kota Bandung. Adapun rute yang dilaluinya adalah Alun- Alun, Jalan Asia Afrika, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Braga, Jalan Lembong, Jalan Veteran, Jalan Sunda, Jalan Sumbawa, Jalan Aceh, Jalan Banda, Jalan Riau, Jalan Citarum, dan Diponegoro.
  • Transparansi Pengelolaan Anggaran Daerah
Melalui Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) di laman http://lakip.bandung.go.id/portal/home, diharapkan pelayanan publik yang diselenggarakan berjalan sesuai dengan etika dan akuntabel, sehingga masyarakat Bandung secara utuh bisa mengawasi jalannya pemerintahan; dst.
Tentu saja, program-program di atas bukan sekedar omong kosong belaka. Beberapa bukti nyata telah diukir dalam rangka memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat Bandung, seperti capaian Bandung di mana kinerja birokrasi dari urutan ratusan pada tahun 2013, sekarang menjadi urutan satu nasional.
Kemudian, pelayanan publik dari rapor merah sekarang menduduki peringkat empat nasional, transparansi pemerintahan, penghilangan izin usaha UKM, persentasi pengangguran yang menurun, kredit usaha tanpa bunga dan agunan, dan sebagainya.[7] Semenjak dilantik, Ridwan Kamil selalu membuat inovasi setiap harinya. Terobosan yang dilakukannya seperti menghidupkan kembali taman kota, memberikan denda kepada perokok di tempat umum, hingga mempercepat pembuatan akte kelahiran.[8]
Di titik inilah kita menyadari bahwa kepemimpinan yang menggerakkan pada akhirnya secara perlahan mampu menangkal segala bentuk tantangan. Sekali lagi perlu ditegaskan, urusan sebesar Indonesia tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Dukungan dan pengawasan secara aktif dari warga Bandung menjadi modal berharga bagi para birokrat untuk terus menjaga integritas dalam bekerja sembari terus-menerus melakukan inovasi.
Dengan begitu, pertanyaan di awal bisa dengan mudah dijawab, bahwa memengaruhi masyarakat untuk terlibat menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hakikat dari kepemimpinan. Setelah itu, bersamaan dengan keterlibatan, maka hasil dan buah karya nyata hanya diberikan dan diabdikan kembali kepada masyarakat.

Ridwan Kamil Sebut Dirinya Sebagai Song Song Couple Masa Depan

Rencana pernikahan Song Joong Ki dan Song Hye Kyo atau disebut juga Song Song Couple disambut antusias para penggemarnya dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa, bahkan pejabat daerah seperti Ridwan Kamil.
Sudah bukan rahasia lagi, pria yang biasa disapa Kang Emil itu cukup mengenal sejumlah idola K-Pop. Tak heran kalau Ridwan Kamil juga ikut bahagia mendengar rencana pernikahan Song Song Couple.
"Turut bahagia dari Indonesia untuk #songsongcouple Song Joong Ki dan Song Hye Kyo untuk rencana nikahnya," ujarnya lewat Instagram pribadinya.
Lagi-lagi, ada saja aksi jenaka Wali Kota Bandung itu yang membuat netizen terpingkal-pingkal. Kali ini, Ridwan Kamil mencoba mengibaratkan dirinya dan sang istri, Atalia Praratya, adalah penggambaran Song Song Couple di masa depan.
Pria berkacamata itu mengunggah sebuah foto kolase berisi potret dirinya bersama sang istri tercinta, Atalia. Kemudian di atasnya terdapat foto Song Joong Ki dan Song Hye Kyo berdiri berdampingan.
"20 Tahun lagi, kira2 seperti foto di bawah gitulah tampang dan raray mereka. Daebak, cuman melar dikit, tapi lebih barokah. #IyainAjaBiarCepet" gurau Kang Emil.

Berbagai reaksi lucu pun diberikan netizen atas unggahan Ridwan Kamil itu. "Eta pa ridwan kamil mudanya kaya ajhsi song joong ki" ujar @delistiaranap.
"Ko ngakak yah sampe tau songsong couple gituh daebakk," sahut @gina_nur_ajizah.
Seperti diketahui, Song Joong Ki dan Song Hye Kyo rupanya diam-diam telah menjalin cinta. Song Song Couple ini rencananya bakal menggelar pernikahan di bulan Oktober 2017 mendatang.

Survei SMRC: Siapapun Lawannya, Ridwan Kamil Tetap Unggul

Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menilai Ridwan Kamil memperoleh dukungan jauh lebih besar dari warga Jawa Barat untuk memenangkan pemilihan gubernur tahun depan dibanding calon-calon lainnya.
Walikota Bandung Ridwan Kamil termasuk tokoh yang paling dijagokan untuk memenangkan pemilihan Gubernur Jawa Barat, yang menurut rencana akan dilangsungkan pada Juni 2018. Asumsi ini diperkuat oleh hasil survei dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Survei yang dilakukan pada pertengahan Juni lalu itu disampaikan oleh Direktur Riset SMRC Deni Irvani dalam jumpa pers di Jakarta hari Kamis (13/7). Hadir pula Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Nasional Demokrat Jawa Barat Saan Mustopa, Ketua Divisi Komunikasi Partai Demokrat Imelda Sari, dan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Andreas Hugo Pareira. Deni Irvani mengakan berdasarkan survei atas 820 responden yang merupakan warga Jawa Barat yang memiliki hak pilih – dalam arti sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan – diketahui bahwa Ridwan Kamil memperoleh dukungan jauh lebih besar dibanding calon-calon lain.
Sekitar 31,4 persen warga Jawa Barat menyatakan akan memilih Ridwan Kamil; 13 persen memilih Deddy Mizwar (kini Wakil Gubernur Jawa Barat); 12,3 persen memilih Dedi Mulyadi (kini Bupati Purwakarta); 8,3 persen milih Dede Yusuf (kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan mantan Wakil Gubernur Jawa Barat); dan 7,5 persen memilih Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym (pemimpin Pesantren Daarut Tauhid, Bandung).
Deni menambahkan dukungan atas Ridwan Kamil semakin nyata terlihat, ketika warga diminta menyatakan pilihan bila akhirnya hanya ada dua kandidat yang berhadapan dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat.
"Ridwan Kamil dapat 49,5 persen, lebih tinggi dibanding Deddy Mizwar 36,8 persen. Head to head antara Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil 57,7 persen dan Dedi Mulyadi 22,2 persen. Head to head Ridwan Kamil dengan Aa Gym, 60,8 persen Ridwan kamil melawan 22,6 persen Aa Gym," papar Deni.
Deni menambahkan perilaku pemilih di Jawa Barat didominasi pemilih otonom, karena 81 persen pemilih di Jawa Barat menyatakan pilihannya didasarkan pada keyakinan sendiri, bukan karena ikut pihak lain.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Nasional Demokrat Jawa Barat Saan Mustopa berharap makin mendekati hari pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun depan, elektabilitas Ridwan Kamil makin tinggi karena menurutnya ada beberapa faktor mengapa tokoh muda itu unggul.
“Yang utama karena citra Ridwan Kamil pada hampir semua indikator positif dibanding figur-figur lain,” tegasnya.
Hasil survei SMRC menunjukkan Ridwan Kamil dinilai memiliki perhatian pada rakyat (86 persen), jujur atau bersih dari korupsi (78 persen), tegas (88 persen), dan mampu memimpin (85 persen).
"Kalau tingkat popularitasnya Ridwan Kamil ini maksimal, bisa menyentuh di atas 90 persen, saya meyakini itu akan berimbas pada naiknya elektabilitas. Jadi memang temuan ini menjadi masukan penting, bagaimana Nasdem dengan Ridwan Kamil itu menaikkan tingkat popularitas di masyarakat Jawa Barat untuk menaikkan elektabilitas Ridwan Kamil sampai 2018," ujar Saan.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Andreas Hugo Pareira menilai pemilihan Gubernur Jawa Barat selalu menghasilkan kejutan. Ia mencontohkan bagaimana Agum Gumelar yang sangat diunggulkan dalam pilkada Gubernur Jawa Barat sebelumnya, ternyata kemudiah kalah dari Ahmad Heryawan.
Andreas menambahkan dari dua survei sebelumnya juga hasilnya sama dengan jajak pendapat dilakukan SMRC, yakni ada tiga figur yang unggul untuk ikut pemilihan Gubernur Jawa Barat, yakni Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, dan Dedi Mulyadi.
"Popularitas itu tidak sama dengan elektabilitas, tapi kecenderungan pada tingkat kesukaan, lebih dominan, lebih mempengaruhi. Sehingga ini masih memungkinkan kalau calon bisa tampil dengan tingkat kesukaan yang baik," tukas Andreas.
Terkait pertarungan partai poltik, penelitian SMRC menunjukkan bila pemilu digelar di Jawa Barat saat survei dilakukan, Golkar akan memperoleh 15,4 persen suara, PDIP (14,5 persen), Gerindra (8,6 persen), PKS (7,2 persen), PPP (6,7 persen), dan Demokrat (6,5 persen). [fw/em]


Istri Ridwan Kamil: Saya Tak Akan Maju di Pilkada Kota Bandung


Atalia Praratya, istri Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, masuk dalam bursa calon Wali Kota Bandung dalam Pilkada Kota Bandung 2018 menurut hasil survei dari Indonesia Strategic Institut (Instrat).
Atalia dinilai memiliki popularitas cukup tinggi di kalangan warga Kota Bandung. Meski demikian, Atalia menegaskan dirinya tidak akan maju pada Pilkada Kota Bandung 2018.
"Saya tidak akan maju," Kata Atalia saat ditemui di Pembukaan RA Hijab, Bandung Indah Plaza, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Sabtu (29/4/2017).
Atalia pun berterima kasih dan mengapresiasi dukungan dari masyarakat yang memintanya maju dalam Pilkada Kota Bandung 2018.
"Alhamdulillah ini kekuatan dunia media sosial. Saya melihat yang mengenal saya bukan hanya Bandung saja, tetapi di wilayah termasuk di Jabar bahkan di nasional," ucapnya. 
Wanita yang karib disapa 'Neng Cinta' ini pun membantah bahwa dirinya tidak mau maju dalam Pilkada Kota Bandung lantaran dilarang oleh suaminya.
"Kalau kang Emil itu karena kita punya komitmen. Dari awal Kang Emil menganggap saya orang yang punya potensi, dalam arti saya senang bicara, aktif. Jadi Kang Emil dari awal kita sudah sepakat saat Kang Emil maju wali kota, Kang Emil bilang saya tidak bisa tanpa teteh, jadi kita tidak boleh masing-masing. Kita adalah satu tim," ucapnya.
Menurut Atalia, ada komitmen di dalam keluarganya. Komitmen paling utama adalah mendukung Ridwan Kamil baik di dunia arsitek maupun politik.
"Saya masih percaya bahwa keluarga itu adalah sebuah tim. Jadi bukan Kang Emil maju ke Jawa Barat saya maju wali kota. Tugas saya sebagai istri adalah mendukung suami, tidak boleh ada dua matahari dalam keluarga. Artinya selama Kang Emil masih dalam dunia politik, saya akan mendukung Kang Emil dan saya tidak akan maju sendiri," tuturnya.
Selain itu, Atalia menegaskan, dirinya akan tetap mencintai warga Kota Bandung meski tanpa menjadi wali kota.
"Untuk merangkul warga, mencintai warga tidak perlu jadi birokrasi dan sebagainya," tandasnya.
Senang
Atalia mengaku kaget saat pertama kali mendapat kabar bahwa namanya masuk dalam bursa calon Wali Kota Bandung dalam Pilkada Kota Bandung 2018 menurut survei Instrat yang dirilis beberapa waktu lalu. 
"Jujur saya kaget," kata Atalia. 
Dia pun tidak memungkiri bahwa dirinya sangat senang mendengarnya.
"Saya senang, bohong kalau orang bilang saya tidak senang," tuturnya. 
Atalia kembali mengatakan bahwa menurut dia, popularitas yang didapatkannya adalah buah dari aktivitasnya di media sosial. 
"Artinya bahwa apa yang saya lakukan selama ini diapresiasi masyarakat," tuturnya.

Ridwal kami,Inspirasi bagi Indonesia


Ridwan Kamil, sang arsitek yang kini digemakan namanya oleh dunia. Walikota Bandung periode 2013-2018 ini akrab disapa Kang Emil. Berbagai karyanya yang mewarnai dunia membuatnya menghimpun banyak penggemar, baik dari kalangan arsitek, perkotaan, hingga anak-anak muda, khususnya warga Bandung. Namun, di balik namanya yang bersinar, tersimpan kisah menarik yang sangat inspiratif. Sebuah kisah yang menjadikan Kang Emil yang sekarang begitu luar biasa.

Lahir di Bandung, besar di Bandung, dan kembali untuk Bandung. Begitu mencintai Bandung, membuatnya bersekolah sejak sekolah dasar hingga menempuh tingkat sarjana di Bandung. Setelah mendapatkan Sarjana Teknik di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Teknik Arsitektur, ia berkelana untuk meniti karir di Amerika Serikat. Pada masa krisis moneter, ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan yang tidak ideal untuk melanjutkan hidup bersama sang istri di Republik Adidaya. Hingga Kang Emil berhasil mendapatkan beasiswa master di University of California, Berkeley. Setelah menggenggam gelar Master of Urban Design, ia kembali ke Bandung.
Dua tahun kemudian, bersama kawan-kawan terdekat, ia mendirikan sebuah firma arsitektur Urbane atau Urban Evolution, atau bisa juga disebut Urang Bandung Euy. Selain itu, ia mengabdi pada almamaternya sebagai dosen. Ia juga menjadi konsultan urban di firma ternama SOM, EDAW, dan SAA. Perkembangan kota Jakarta dan Surabaya pun tak lepas dari kontribusi Kang Emil yang sangat mencintai kota dan berkarir untuk kota
 
Lahir di Bandung, besar di Bandung, dan kembali untuk Bandung. Begitu mencintai Bandung, membuatnya bersekolah sejak sekolah dasar hingga menempuh tingkat sarjana di Bandung. Setelah mendapatkan Sarjana Teknik di Institut Teknologi Bandung pada jurusan Teknik Arsitektur, ia berkelana untuk meniti karir di Amerika Serikat. Pada masa krisis moneter, ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha dalam keadaan yang tidak ideal untuk melanjutkan hidup bersama sang istri di Republik Adidaya. Hingga Kang Emil berhasil mendapatkan beasiswa master di University of California, Berkeley. Setelah menggenggam gelar Master of Urban Design, ia kembali ke Bandung.
Dua tahun kemudian, bersama kawan-kawan terdekat, ia mendirikan sebuah firma arsitektur Urbane atau Urban Evolution, atau bisa juga disebut Urang Bandung Euy. Selain itu, ia mengabdi pada almamaternya sebagai dosen. Ia juga menjadi konsultan urban di firma ternama SOM, EDAW, dan SAA. Perkembangan kota Jakarta dan Surabaya pun tak lepas dari kontribusi Kang Emil yang sangat mencintai kota dan berkarir untuk kota
Dalam karir profesionalnya, Kang Emil memiliki dua langkah dalam mencapai visinya. Yang pertama adalah mengedukasi orang mampu agar memahami pentingnya kota bagi seluruh lapisan, serta memberikan fasilitas kepada mereka yang tidak mampu melalui proyek sosial. Seperti yang ia lakukan pada kediamannya, Bottle House. Selama 6 bulan ia mengumpulkan botol kaca bekas sehingga mampu diolah menjadi elemen dinding dan roster, yang menjadi sebuah inisiasi cerdas: mengubah sampah menjadi unsur estetika.
Sisi kreatifnya tak berhenti kendati kini ia telah menjadi Walikota Bandung. Moto “membangun kota dengan gagasan baru” terlihat menarik hingga ratusan orang berharap memiliki walikota keren seperti Kang Emil. Mari kita lihat inovasinya dalam menciptakan kebiasan baik bagi warga Bandung dengan hari tematik seperti Selasa Tanpa Rokok dan Rebo Nyunda. Semua hal itu diawali dari dirinya sendiri. Ia memanfaatkan media sosial untuk mengajak warganya melakukan hal yang sama. Luar biasa, bukan?
Begitu juga taman-taman tematik yang Kang Emil bangun sedikit demi sedikit pada periode pemerintahannya. Taman Jomblo, Taman Film, dan Revitalisasi Alun-alun Bandung. Diiringi dengan perubahannya pada periklanan untuk kota, yang dikemas ala anak muda sebagai pendorong dan pengingat bagi masyarakat Bandung yang kreatif, untuk mengalokasikan kreativitasnya pada kota.
Kiprah Kang Emil mulai dari bidang arsitektur, kota, sosial, hingga pemerintahan, menumbuhkan harapan hadirnya para pembawa perubahan yang kreatif di Indonesia.
Bagaimana dengan kamu?



 

Selasa, 04 Juli 2017

Ridwan Kamil masih setia dengan NasDem

Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat Saan mustofa mengatakan, Ridwan kamil setelah dideklarasikan sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat pada Maret 2017 lalu masih memegang komitmen awal. Saa menyebut Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil masih setia dengan NasDem.

"Ya Kang Emil masih setia. Komunikasi masih terus dilakukan. Pas di Ujung Genteng (Sukabumi) dan Tasikmalaya ada beberapa kiai yang ingin ketemu sama Kang Emil saya fasilitasi juga," kata Saan di sela-sela kegiatan lomba keagamaan dan buka puasa bersama ratusan siswa TK, SD beserta anak yatim, di Kantor DPW NasDem Jawa Barat, Kota Bandung, Minggu (18/6).

Sehingga sampai saat ini bahkan sampai pertarungan Pilgub Jabar, dia meyakini Emil tidak akan melupakan NasDem sebagai partai yang pertama kali mengusungnya. Meski demikian NasDem tidak pernah mengekang Emil untuk terus berkomunikasi dengan partai lain.

"Karena NasDem enggak minta apapun. Justru kita mendorong terus berkomunikasi dengan partai lain," jelasnya.

Dia menyatakan, hingga saat ini elektabilitas Emil terus meningkat pascadeklarasi dukungan oleh partainya. Hal ini sekaligus mematahkan penilaian banyak pihak tentang imbas kekalahan Basuki Tjahaja Purnama yang didukung Partai NasDem di Pilgub DKI Jakarta.

"Ini pengakuan Kang Emil. Semenjak dideklarasikan NasDem, elektabilitasnya terus meningkat. Ini membuktikan tidak efek Pilgub Jakarta," katanya.

Ridwan Kamil Adakan Kompetisi Ide Membangun Kota Bandung


Untuk kedua kalinya, Pemerintah Kota Bandung bersama iuran.id (Inovasi Urang Bandung) kembali akan menggelar kompetisi ide membangun kota.
Kompetisi itu dilaksanakan berbasis website di situs iuran.id. Kontes ide ini akan mengangkat tiga isu, yakni Transportasi (Transportation), Wirausaha (Enterpreneurship), dan Pengurangan Angka Kemiskinan (Poverty Reduction).
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, kegiatan ini harus menjadi pemicu kreativitas warga Bandung untuk berkontribusi dalam proses pembangunan kota. Untuk itu, ia ingin konsep acara dirancang seinovatif mungkin.
"Yang akan hadir dan ikut dalam kompetisi ini adalah orang-orang Bandung yang kreatif, inovatif, dan visioner. Jadi, acara ini kurang lebih harus mencerminkan hal serupa," ujar Ridwan Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (19/6/2017).
Kompetisi ide ini akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yakni penjaringan ide melalui kompetisi daring (online), penyeleksian oleh akademisi dan unsur pemerintah, pembuatan purwarupa (prototype), inkubasi, serta implementasi dan tindak lanjut.
Pemenangnya akan berkesempatan untuk diwujudkan gagasannya oleh Pemerintah Kota Bandung.
Konsep kegiatan tahun ini memang dirancang lebih gebyar dari pada tahun lalu. Iuran.id mengemasnya dalam bentuk serangkaian festival yang bertajuk That’s.ID: Bandung Festival of Ideas, Actions and Happiness. Acara ini direncanakan akan digelar pada tanggal 25-26 Agustus 2017 mendatang.
Festival tersebut terdiri dari workshop, pameran, seminar, dan konferensi yang menghadirkan para tokoh inspiratif. Acara akan diikuti oleh peserta kompetisi yang telah memasukkan gagasannya ke dalam situs iuran.id.
"Saya dukung festival gagasan ini, karena kreativitas ini bisa menular kepada orang yang datang ke festival ini, " ucapnya.
Tahun lalu, iuran.id berhasil menghimpun 1.681 gagasan dari 5214 anggota aktif. Pemenang kompetisi tersebut adalah Dani Ferdian, seorang dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang menginisiasi Ambulans Motor.

Jalan Braga Bandung

Sejarah Jalan Braga di Bandung

Pada mulanya Jalan Braga merupakan suatu jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi hingga diberi nama Jalan Culik lantaran cukup riskan, juga di kenal juga sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada th. 1900-an.
Jalan Braga jadi ramai lantaran banyak usahawan-usahawan terlebih berkebangsaan Belanda membangun beberapa toko, bar serta tempat hiburan di lokasi itu seperti toko Onderling Belang.
Lalu pada dasawarsa 1920-1930-an nampak beberapa toko serta butik (boutique) pakaian yang mengambil jenis di kota Paris, Perancis yang waktu itu adalah kiblat jenis pakaian didunia.
Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang dipakai untuk pertemuan beberapa warga Bandung terutama kelompok tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan sebagainya di sebagian blok di seputar jalan ini dapat tingkatkan kemasyhuran serta keramaian di Jalan Braga ini.
Tetapi segi buruknya yaitu timbulnya hiburan-hiburan malam serta lokasi lampu merah (lokasi remang-remang) di lokasi ini yang bikin Jalan Braga sangatlah di kenal turis. Dari sinilah arti kota Bandung juga sebagai kota kembang mulai di kenal.
Hingga perhimpunan orang-orang warga Bandung waktu itu bikin selebaran serta pengumuman agar “Beberapa Tuan-tuan Turis baiknya tak berkunjung ke Bandung jika tak membawa istri atau meninggalkan istri dirumah “.
Di banyak daerah serta kota-kota yang berdiri dan berkembang pada saat Hindia Belanda, juga di kenal nama jalan-jalan yang di kenal seperti Jalan Braga di Bandung seperti Jalan Kayoetangan di kota Malang yang juga cukup termasyhur di kalangan beberapa Turis terlebih dari negeri Belanda juga Jalan Malioboro di Yogyakarta serta sebagian ruas jalan di Jakarta.
Tetapi sayangnya nama asli jalan ini tak dipertahankan atau dirubah dari nama pada awal mulanya yang dikira populer seperti Jalan Kayoetangan di kota Malang ditukar jadi Jalan Basuki Rahmat.